Board of Censorship for Indonesia why not, to reject market control over Indonesian value INDONESIA MASIH BUTUH BADAN SENSOR: MENOLAK LIBERALISASI NILAI OLEH PASAR

Bila Lembaga Sensor Film atau Badan Sensor Film dibubarkan sama sekali, dan penggantinya tidak memiliki otoritas Kenegaraan, wewenang menjaga Nilai Kebangsaan. Itu akan menjadi kekalahan utama bangsa dan Negara Indonesia. Kekalahan yang akan MELIBERALISAKAN NILAI-NILAI PADA KEKUATAN PASAR. Nilai-nilai bangsa Indonesia, yang bersumber dari kebijakan dan kearifan lokal (nilai-nilai positif dari suku-suku di penjuru Nusantara, termasuk nilai kemanusiaan, kebersamaan, penghargaan pada alam, gotong royong etc).
Bangsa Indonesia awalnya dibentuk dari semangat Sumpah Pemuda 1928. Sumpah adalah latar belakang (background), awal mula, titik cinta, lahirnya pertemuan dan perkawinan suku-suku bangsa di Indonesia. Saat itulah 1928 semangat perbedaan sekaligus semangat kemenyatuan didengungkan, diserap (absorb) dan terus dijadikan identitas ciri manusia sendiri, kelompok-suku, hingga identias bersatu, bersama, kolektif bangsa Nation Indonesia. Semangat kekuatan nilai-nilai yang dimiliki sebagai bangsa. Lalu kekuatan nilai-nilai itu kini terancam oleh KEKUATAN PASAR—kekuatan capital yang mampu memproduksi sebanyak-banyaknya film. Tanpa peduli nilai, tanpa peduli semangat 1928, yang penting membuat film dan ditonton. Penontonnya adalah massa yang sudah terjajah program televisi ‘Amerika Serikat’ MTV, Idol-idolan, ‘Murdoch-Fox’ program, gossip.
Orde Baru dan Monolitik Kekuasaan

Kongres Perempuan Indonesia, Sebuah Gerakan Perempuan 1928-1941

Kongres Perempuan Indonesia, Sebuah Gerakan Perempuan 1928-1941
Latar Belakang
Perempuan Indonesia, adalah komunitas yang memiliki keragaman dalam menyikapi berbagai bentuk persoalan kemasyarakatan, akan tetapi memiliki kesamaan dalam bentuk penindasan dan pengabaian yang dialami. Pengabaian hak dan penindasan yang disebabkan sebagai manusia ia berjenis kelamin perempuan. Hal yang terjadi di berbagai belahan dunia  di mana pun, [...]

Media Advocacy to End Violence against Women

Media Advocacy to End Violence against Women
Background
Indonesia turnout democracy since 1998 was not possible without media participation. After mass rape in May riot 1998, people start to began and act to stop violence against women. May riot casualties have cause for more than 400 death tolls throughout The Country. And for women, there were [...]